JEPANG MASA KINI
Oleh Muhamad Dzikri
(1100184)
Pada
awalnya, Jepang merupakan Negara di Asia yang tidak begitu jauh berbeda
dengan negara Asia lainnya. Yaitu memiliki budaya dan adat istiadat
yang unik, beraneka ragam kepercayaan, dengan tata cara pergaulan yang
berpegang teguh pada sopan santun dan tata-krama. Perbedaan besar
terjadi sekitar abad ke- 19, di mana waktu itu Jepang mulai
menyadari bahwa dirinya tertinggal dari negara Barat, baik dari segi
ekonomi, pemerintahan, militer, dan lain-lain. Untuk mengatasi
ketertinggalannya itu, Jepang kemudian mengadakan restorasi
besar-besaran, yang dinamakan Restorasi Meiji.
Pada abad itu, westernisasi
terjadi di segala bidang, yaitu pemerintahan, militer, ekonomi,
teknologi, dan lain-lain kecuali budaya. Jepang tidak meninggalkan
budayanya sama sekali, baik itu dari ritual-ritual yang biasa mereka
lakukan, sistem kepercayaan mereka dan lain-lain. Hal inilah yang
berhasil menjadikan Jepang sebagai negara yang cukup disegani oleh
negara lain karena Jepang mampu menghadirkan unsur modern tanpa
menghilangkan budaya tradisionalnya.
· Awal Globalisasi di Jepang
Masuknya pengaruh dari dunia Barat (atau yang lebih disebut westernisasi)
berawal pada tahun 1854. Pada saat itu, Komodor AS, Matthew Perry
memaksa dibukanya Jepang kepada Barat melalui Persetujuan Kanagawa.
Akibatnya dari dibukanya Jepang ini munculah Restorasi Meiji.
Restorasi Meiji yang biasa dikenal juga dengan sebutan Meiji Ishin,
Revolusi, atau Pembaruan, adalah rangkaian kejadian yang mnyebabkan
perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Restorasi Meiji terjadi pada tahun 1866 sampai 1869.
Jepang mengadopsi beberapa institusi Barat pada periode Meiji,
termasuk pemerintahan modern, sistem hukum, dan militer.
Perubahan-perubahan ini mengubah Kekaisaran Jepang menjadi kekuatan
dunia.
Sejak Restorasi Meiji inilah, Jepang menjadi terbuka pada berbagai pengaruh dari negara Barat. Pada abad itu, westernisasi terjadi di segala bidang, yaitu pemerintahan, militer, ekonomi, teknologi dan lain-lain.
· Berbagai Dampak Globalisasi di Jepang
Globalisasi
telah memberikan berbagai kemajuan bagi Jepang, dari negara yang
tertutup dan tidak berkembang menjadi negara Asia yang kini mampu
berhadapan dengan negara-negara Barat superior seperti Amerika Serikat,
Inggris, dan negara lainnya.
· Proses Pembangunan Gedung-gedung Bertingkat
Salah
satu dampak globalisasi yang dirasakan Jepang adalah menjamurnya gedung
bertingkat. Jepang memang sudah berubah. Jika kita mengunjungi Jepang,
kita pasti akan menjumpai berbagai gedung bertingkat layaknya yang kita
jumpai di berbagai negara maju di Barat.
· Gaya Berpakaian “Harajuku Style”
Pengaruh
globalisasi tidak hanya dapat dilihat dari berbagai pembangunan gedung
yang ada di Jepang. Salah satu pengaruhnya yang juga dapat kita lihat
adalah dari gaya berpakaian para remaja putri di Jepang.
Belakangan
ini muncul tren bagi remaja putri di Jepang untuk memakai pakaian serba
ditumpuk-tumpuk, serba terbuka, dan tabrak motif serta warna. Gaya
berpkaian seperti ini sangat dipengaruhi oleh tren dunia Barat, yang
kemudian dicontoh oleh remaja-remaja putri di Jepang melalui berbagai
majalah mode.
Harajuku
sendiri adalah sebutan popular untuk kawasan di sekitar Stasiun JR
Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal sebagai tempat
anak-anak muda berkumpul.
Setelah dibukanya berbagai departement store pada tahun 1970-an, Harajuku menjadi pusat busana. Kawasan ini menjadi terkenal di seluruh Jepang setelah diliput majalah fesyen seperti Anandan non-no. Pada waktu itu, sekelompok gadis-gadis yang disebut Annon-zoku sering dijumpai berjalan-jalan di kawasan Harajuku. Gaya busana mereka meniru busana yang dikenal model majalah Anandan non-no.
· Anime dan Manga
Ø Anime
Anime
adalah animasi khas Jepang, yang biasanya dicirikan melalui
gambar-gambar berwarna-warni yang menampilkan tokoh-tokoh dalam berbagai
macam lokasi dan cerita, yang ditujukan pada beragam jenis penonton. Anime dipengaruhi gaya gambar manga, komik khas Jepang.
Ø Manga
Manga
merupakan kata komik dalam bahasa Jepang; di luar jepang, kata tersebut
digunakan khusus untuk membicarakan tentang komik Jepang. Mangaka adalah orang yang menggambar manga.
Perbedaan
mendasar antara sebutan manga dan komik adalah perbedaan
pengelompokkan, di mana manga lebih terfokus pada komik-komik Jepang
(kadang juga Asia), sedangkan komik lebih terfokus pada komik-komik
buatan Eropa/Barat.
· Perusahaan Besar Jepang Berskala Dunia
Ø Honda
Honda
Motor Co, Ltd adalah produsen mobil, truk, sepeda motor dan skuter asal
Jepang. Mereka juga membuat kendaraan segala medan (ATV), generator
listrik, mesin kelautan, dan peralatan taman.
Honda
didirikan pada 24 September 1948 oleh Soichiro Honda. Dengan lebih dari
14 juta mesin pembakaran dalam dibuat setiap tahun, Honda merupakan
produsen mesin terbesar di dunia. Pada tahun 2004, perusahaan ini mulai
memproduksi motor diesel, yang sangat tenang dan tidak membutuhkan
penyaring untuk dapat melewati standar polusi.
Ø Sony
Sony
adalah perusahaan elektronik yang berpusat di Tokyo, Jepang. Sekarang
ini Sony merupakan produsen elektronik terbesar di dunia dan salah satu
perusahaan terbesar di Jepang dan dunia. Perusahaan Sony diperdagangkan
di Bursa Saham Tokyo dengan nomor 6758 dan Bursa Saham New York sebagai
SNE melalui ADR.
Sony
didirikan pada 7 Mei 1946 dengan nama Perusahaan Telekomunikasi Tokyo
dengan sekitar 20 karyawan. Produk konsumen mereka yang pertama adalah
sebuah penanak nasi pada akhir 1940-an. Seiring dengan berkembangnya
Sony sebagai perusahaan internasional yag besar, ia membeli perusahaan
lain yang mempunyai sejarah yang lebih lama termasuk Columbia Records
(perusahaan rekaman tertua yang masih ada, didirikan pada tahun 1888).
· Supernatural Beliefs di Jepang
Ø Agama di Jepang
Di
Jepang, ada 2 jenis agama yang dianut oleh sebagian besar rakyatnya.
Agama itu adalah agama Budha dan Shinto. Sebenarnya penduduk Jepang juga
menganut agama lain, namun kebanyakan penduduk Jepang mayoritas
menganut 2 agama, yatu agama Budha dan Shinto. Walaupun identitas agama
di Jepang sudah sedemikian pudarnya sehingga kebanyakan orang Jepang
merayakan hari kelahiran di kuil Shinto, pernikahan di gereja, dan
upacara kematian di kuil Budha.
Agama
Budha di Jepang pada dasarnya tidak berbeda dengan agama Budha yang
dianut di Indonesia. Agama yang paling dominan di Jepang adalah Budha.
Data pada tahun 1994 mencatat pemeluk agama ini 90 juta jiwa. Di Jepang,
tempat beribadah untuk umat beragama Budha disebut dengan Temple. Temple dipakai untuk terjemahan kata “Tera” atau bangunan suci untuk agama Budha.
Sedangkan
agama Shinto adalah sebuah agama yang berasal dari Jepang. Shinto
merupakan kepercayaan yang menekankan bahwa ala mini memiliki kekuatan,
seperti matahari, sungai, tanah, udara, air, api, dan lain sebagainya.
· Matsuri
Matsuri
adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto
berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut
pengertian sekularisme berarti festival, perayaan atau hari libur
perayaan.
Matsuri diadakan dibanyak tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada juga matsuri yang diselenggarakan di gereja dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut Kunchi.
Matsuri
berasal dari kata matsuru yang berarti pemujaan terhadap Kami atau
ritual yang terikat. Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsure
dalam matsuri, yaitu penyucian (harai), persembahan, pembacaan do’a (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato.
· Mitologi Jepang
Mitologi Jepang adalah mitologi yang disampaikan secara turun temurun di Jepang.
Folklor yang sekarang sering disebut mitologi Jepang, hampir seluruhnya berdasarkan cerita yang terdapat dalam Kojiki, Nihonshoki, dan Fudoki dari berbagai provinsi di Jepang. Dengan kata lain, mitologi Jepang sebagian besar berkisar pada berbagai Kami penghuni Takamanohara (Takaamahara atau Takamagahara), dan hanya sedikit sumber literatur tertulis yang dapat dijadikan rujukkan.
· Karura
Karura
adalah seekor makhluk besar yang memiliki nafas panas dan merupakan
bagian dari mitologi Hindu-Budha di Jepang. Makhluk ini memiliki tubuh
manusia dan berkepala seekor elang. Makhluk ini berdasarkan Garuda dan
dibawa di Jepang dengan penyebaran agama Budha.
Namun Karura
juga merupakan pelafazzan bahasa Sansekerta Garuda. Namun nampaknya
bentuk Jepang ini diambil dari bahasa Pali Garula. Karura seringkali
dikacaukan dengan Houou (paus) atau Phoenik.
Jepang
adalah negara yang identik dengan teknologi, berbagai kemajuan dalam
bidang teknologi telah berhasil dicapai oleh Jepang. Hal ini disebabkan
karena Jepang sangat terbuka menerima segala pengaruh dari dunia luar.
Dampak globalisasi sangat mudah untuk kita temukan di Jepang. Dampak
globalisasi yang paling menonjol adalah kemajuan teknologi yang dialami
Jepang hingga mampu menghasilkan berbagai perusahaan kelas dunia,
diantaranya yang paling terkenal adalah Honda dan Sony. Gaya berpakaian
anak muda Jepang, yang lazim dikenal dengan sebutan harajuku style juga
sangat terpengaruh dengan gaya berpakaian remaja Barat. Dampak
globalisasi lain yang diterima Jepang adalah anime dan manga, kedua hal ini merupakan bentuk adaptasi Jepang terhadap cartoon dari Barat.
Walaupun
dampak globalisasi benar-benar terasa di Jepang, namun rakyat Jepang
berbeda dengan rakyat Barat. Rakyat Jepang tetap melakukan kegiatan
ritual dan kepercayaan-kepercayaan (supernatural beliefs),
serta tetap mepercayai berbagai mitologi yang sudah diwariskan pada
mereka sejak dahulu kala. Rakyat jepang mayoritas menganut 2 agama,
yaitu Budha dan Shinto. Sedangkan mengenal ritual yang berhubungan
dengan kepercayaan, Jepang mempunyai Matsuri, yaitu sebuah ritual yang diadakan dengan tujuan untuk bersyukur pada Kami (dewa, roh alam, atau kekuatan spiritual pada agama Shinto).
Namun sayangnya, globalisasi telah menyebabkan lunturnya nilai-nilai kepercayaan (supernatural beliefs)
yang ada pada diri rakyat Jepang. Semua ritual yang mereka lakukan kini
sudah bergeser maknanya. Hanya sedikit dari Jepang yang mengetahui
tujuan sebenarnya dari setiap ritual itu. Sisanya, hanya menganggap
ritual itu sebagai salah satu waktu untuk bersenang-senang dan berkumpul
bersama. Begitu juga dengan agama. Rakyat jepang memang masih tetap
beragama, dalam pengertian tidak atheis dan tetap beribadah
sesuai dengan kepercayaannya. Namun kehadiran globalisasi dalam hidup
mereka membuat mereka tidak begitu peduli lagi dengan agama mereka.
Mereka seringkali menjadi terlalu sibuk untuk beribadah, agama kini
hanya menjadi status bagi mereka. Dan yang lebih parah lagi, mereka sama
sekali tidak menganggap hal itu sebagai hal yang salah. Mereka seperti
sudah terbiasa dengan staus mereka yang “terlihat seperti orang beragama
tetapi sebenarnya sama sekal tidak paham tentang agama”.
Ironis,
memang. Sebuah negara Asia yang kini berhasil menyaingi negara Barat,
kini malah kehilangan jati dirinya sebagai negara Asia. Padahal,
satu-satunya yang membedakan kita dari negara barat adalah kepercayaan
kita pada sesuatu yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Bila
Jepang kini sudah tidak peduli dengan supernatural beliefs
mereka, lantas apa yang membedakan Jepang dengan negara-negara Barat
lainnya? Jepang seharusnya lebih mewaspadai hal ini. Menjadi maju
seperti negara Barat bukan berarti ia harus melepaskan statusnya sebagai
negara Asia.